Selasa, 17 September 2019

PELINDUNG


 pict source : kaskus.id


Pelindung

Hal yang terlintas dalam benak kita saat mendengar kata tersebut tidak lain adalah seseorang yang selalu berada didekat kita dan menjaga kita. Seseorang yang melindungi ketika bahaya, menolongmu disaat kau butuh pertolongan, selalu ada untuk kita, di sisi kita. Taukah kamu? Aku mempunyai seorang pelindung yang baru kusadari setelah aku kehilangannya.
Saat aku pulang sekolah, Ia selalu menjemputku, mengantarku dengan hati-hati. jika hujan, ia akan membawakanku mantel, dan tak pernah lupa membawakan helm supaya diriku aman. Di perjalanan, Ia menanyakan bagaimana hariku disekolah. Jika aku ingin membeli sesuatu, dengan senang hati Ia akan mengantarkanku untuk membelikan apa yang kubutuhkan. Sesampainya di rumah, Ia melanjutkan pekerjaannya dan aku pergi untuk mengerjakan tugas sekolah. Jika aku tertidur di malam hari setelah menonton TV, Ia akan menggendongku ke dalam kamar tanpa membangunkanku. Hingga saat pagi hari aku terheran saat aku sudah berada diatas kasur dengan selimut yang membungkus tubuhku.
Seiring berjalannya waktu, aku pun beranjak dewasa, dan membawa motor sendiri untuk pergi ke sekolah. Ia pun tak lagi menjemputku seperti yang dahulu Ia lakukan. Ia sibuk bekerja dan seringkali kelelahan bekerja. Aku merasa tak terlalu dekat dengannya dan seringkali jengkel dengannya. Di marahi, di batasi, dilarang, di atur, di kekang, banyak hal yang kurasa menjengkelkan yang ia lakukan pada saat itu. Padahal, tidak lain semua hal yang dilakukannya adalah untuk keebaikanku. Di batasi supaya aku tidak dibutai oleh emosiku yang suka meledak ledak, karena aku adalah orang yang emosional. Beberapa kali aku di panggil ke ruang guru akibat perbuatan yang kulakukan, bertengkar misalnya. Alasanku melakukan hal tersebut awalnya adalah demi hal yang baik. Seorang teman dikelaasku disudutkan dan diejek oleh beberapa orang. Menurutku itu adalah tindakan yang super pengecut dan aku sangat membenci hal hal itu. Awalnya aku hanya menghentikan perbuatan mereka dengan bicara pada mereka, namun mereka tidak mengindahi perkataanku. Akibat emosi saat melihat perbuatan mereka, aku langsung menendang kaki orang-orang tersebut. Tak hanya itu, aku juga meninju tangan mereka sehingga mereka kesakitan dan mengadukannya pada seorang guru. Kami semua disuruh keluar dan dilarang untuk memasuki kelas hingga kami saling maaf memaafkan. Aku yang sangat jengkel pada saat itu bersikap “bodo amat” karena toh, salah mereka. Aku berpikir bahwa aku hanya melakukan tidakan yang benar, meski dengan cara yang kurang baik. Karena tidak satupun dari kami yang meminta maaf, guru berkata bahwa akan memanggil orangtua kami. Mendengar ucapan guru tersebut, aku yang takut akan dimarahi dan akan membuat orangtuaku sedih langsung meminta maaf pada mereka supaya guru tidak memanggil orangtuaku. Akibat guru yang sering mengancam akan memanggil orangtuaku, aku pun menjadi orang yang pemendam dan terkadang pendiam di sekolah. Tentu saja alasannya adalah emosionalku yang harus kupendam sehingga aku sering memendam. Seiring berjalannya waktu, kini aku sudah bisa lebih mengontrol emosionalku. Aku fokus untuk belajar saat sekolah, ada tidak memerdulikan hal hal buruk yang terjadi di sekolah. Toh, ada guru yang akan mengancam akan memanggil orangtuamu, meski kau melakukan tindakan tersebut untuk temanmu.
Kini, aku sibuk untuk ujian akhir yang akan kujalani. Waktu belajar tambahan sore membuatku semakin kurang berinteraksi dengannya. Aku hanya sibuk dari pagi hingga pagi di sekolah hingga sore, dan pada malam harinya aku sibuk mengerjakan tugas sekolah dan tidur setelahnya akibat tubuh yang lelah. Hingga pada suatu siang, aku mendapati telepon bahwa Ia sedang berada di rumah sakit. Ia memang sudah lama menderita diabetes, namun saat ini Ia dirawat akibat sakit dari komplikasi diabetes yang ia derita. Seketika itu aku langsung menangis dan bersembunyi sementara diluar kelas hingga air mataku berhenti dan aku menyekanya supaya tidak diketahui orang lain. Aku kembali masuk ke kelas dengan wajah yang pucat ditakuti rasa cemas memikirkannya.
Sepulang dari sekolah aku langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaannya. Aku bersyukur Ia lebih baik setelah dirawat beberapa hari dirumah sakit. Setelah itu kami kembali menjalani hari seperti biasanya. Ia sekarang di rawat jalan akibat penyakitnya yang sudah menjalar merusak ginjalnya. Aku menjalani kehidupan dengan makin depresi. Beban pikiran karena Ia sedang sakit, beban pikiran akibat suasana sekolah yang sangat aku tidak suka, beban pikiran teman teman yang hanya makin membebaniku, dan semakin menjauh karena aku tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi di sekolah, karena tidak ingin memberatkan orangtuaku jika aku sampai membuat masalah lagi, juga beban suasana keluarga besar yang makin renggang. Tak ada tempat mengadu bagiku, hingga aku selalu memendam semua yang kujalani.
Semakin hari kondisi mental maupun fisikku makin memburuk. Aku adalah orang yang mudah sakit sedari kecil. Aku sangat mudah terkena penyakit, terutama akibat alergi yang kupunya. Aku mengidap alergi debu, alergi dingin, sangat mudah terkena sakit kepala, dan tidak tahan dengann panas. Saat berada di sekolah dasar, aku akan berada di ruang kesehatan karena akan pingsan jika terkena panas matahari dalam waktu yang lama, namun saat smp aku sudah bisa kembali mengikuti upacara dan kegiatan outdoor lainnya, meski tetap saja tak bisa dielakkan jika terlalu lama terkena panas aku akan pusing dan bisa hilang keseimbangan.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa kini aku telah menjadi seorang mahasiswi. Aku semakin sibuk dan semakin sulit untuk beremu dengannya. Ia tetap bekerja meski sedang sakit, memenuhi semua kebutuhanku, membiayai kuliahku, dan tak perna berhenti banting tulang demi untukku. Meski aku tak sadar, jutaan hal yang telah Ia lakukan untukku. Selalu menanyakan kabarku hari-hariku, menjagaku dari kejauhan, selalu menasehatiku, hingga tak sadar aku lelah dengan tindakan terlalu protektif yang ia lakukan. Sangat jarang aku bertemu dengannya. Sekalinya bertemu, aku suda terlalu kelelahan dengan urusan kuliah hingga aku sering marah dan capek untuk melakukan hal yang Ia mintai tolong padaku.
Mengetahui yang kualami, Ia makin jarang untuk memintaku melakukan sesuatu. Ia hanya sesekali meminta tolong untuk memijitnya karena sakit yang ia rasakan. Hari pun berjalan hingga tibalah liburan akhir semester. Aku pulang dan bertemu dengannya, namun yang kulakukan padaya tetaplah sama. Seringkali aku ingin meringankan bebannya, namun sering juga itu hanya menjadi wacana akibat diriku yang mudah terkena sakit, sehingga sering terbaring di kasur untuk beristirahat. Hingga pada pagi hari, aku mendapat telepon bahwa ia tak bisa bangun namun masih bernapas. Aku langsung mendatanginya dan memnggil manggil namanya. Semua orang cemas dan menitikkan air mata. Aku terus memanggilnya sambil menggenggam tangannya. Tak lama kemudian, suara napasnya makin tipis, lalu ia menggenggam balik tanganku dan aku kaget berharap ia bangun, namun yang aku dapati adalah Ia pergi meninggalkan kami semua selamanya. Ia pergi dengan tenang hingga tak seorangpun menyadari kepergiannya selain diriku. Aku yang tak sanggup menerima kejadian saat itu terdiam dan tak memberitahu siapapun tentang kepergiannya. Hanya dalam beberapa detik, akhirnya yang lain mengetahui bahwa Ia telah pergi dan isak tangis semuanya pun pecah melihat apa yang terjadi. Aku terus menangis tanpa bersuara karena takut membebani kepergiannya. Salah seorang keluarga mencoba mengecek dan merasakan bahwa ada nadi yang super lemah dan menyuruh untuk membawanya ke rumah sakit agar memastikan keadaannya.
Setibanya di rumah sakit, para petugas medis langsung memasang alat deteksi jantung dan mendapati bahwa Ia sudah meninggalkan kami semua. Tangisku makin pecah sembari tetap menahan suara, dan juga menahan tangis agar orang lain tak melihat kelemahanku. Aku depresi, frustasi, sakit, sangat merasa kehikangan, hingga hanya bisa diam untuk beberapa waktu. Aku sangat sangat menyesal atas apa yang kulakukan selama ini padanya. Yang terlintas hanyalah tindakan jahat yang kulakukan, dan kenangan baik yang Ia lakukan untukku.
Kini aku menjalani hari dengan tanpanya. Aku makin stress dan tak pernah melupakannya. Tiap malam aku menangis mengingat semua tentangnya. Semua perbuatannya kini hanya bisa kulakukan dengan terus beribadah dan mendoakannya agar Ia ditempatkan di tempat terbaik. Ia adalah ppelindungku selama ini. Kini aku telah kehilangan seorang pelindungku dengan penuh penyesalan. Setelah cerita panjang tadi, sudahkah kalian tau siapa pelindungku tersebut? Ya, dia adalah ayahku, pendamping ibu sang malaikatku dan anak-anaknya. Sadarilah, jika ayah kalian masih hidup, banyaklah berbuat baik padanya. Sadari bahwa selama ini ia adalah pelindung dari keluargamu. Meski kadang ia marah, kesal, semua itu tidaklain adalah demi dirimu, dan kadang hanya karena ia kelelahan, Ia juga seorang manusia, dan manusia tak luput dari kesalahan karena tidak ada manusia yang sempurna. Jangan pernah menutupi hatimu akan tindakannya. Dahulu aku juga tidak mengindahkan kata-kata ini, aku menutup hati dan tak mengingat perbuatan baiknya, hanya memikirkan diriku yang selalu diatur olehnya. Orang yang sudah pergi untuk selamanya, tidak akan pernah kembali kecuali di akhirat nanti. Kau akan menyesal karena tak lagi dapat bertemu dengannya di dunia ini, hingga putus asa atas apa yang telah terjadi selama ini.

by : halcyondkz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar