Pelindung
Hal yang
terlintas dalam benak kita saat mendengar kata tersebut tidak lain adalah
seseorang yang selalu berada didekat kita dan menjaga kita. Seseorang yang
melindungi ketika bahaya, menolongmu disaat kau butuh pertolongan, selalu ada
untuk kita, di sisi kita. Taukah kamu? Aku mempunyai seorang pelindung yang
baru kusadari setelah aku kehilangannya.
Saat aku
pulang sekolah, Ia selalu menjemputku, mengantarku dengan hati-hati. jika
hujan, ia akan membawakanku mantel, dan tak pernah lupa membawakan helm supaya
diriku aman. Di perjalanan, Ia menanyakan bagaimana hariku disekolah. Jika aku
ingin membeli sesuatu, dengan senang hati Ia akan mengantarkanku untuk
membelikan apa yang kubutuhkan. Sesampainya di rumah, Ia melanjutkan
pekerjaannya dan aku pergi untuk mengerjakan tugas sekolah. Jika aku tertidur
di malam hari setelah menonton TV, Ia akan menggendongku ke dalam kamar tanpa
membangunkanku. Hingga saat pagi hari aku terheran saat aku sudah berada diatas
kasur dengan selimut yang membungkus tubuhku.
Seiring
berjalannya waktu, aku pun beranjak dewasa, dan membawa motor sendiri untuk
pergi ke sekolah. Ia pun tak lagi menjemputku seperti yang dahulu Ia lakukan.
Ia sibuk bekerja dan seringkali kelelahan bekerja. Aku merasa tak terlalu dekat
dengannya dan seringkali jengkel dengannya. Di marahi, di batasi, dilarang, di
atur, di kekang, banyak hal yang kurasa menjengkelkan yang ia lakukan pada saat
itu. Padahal, tidak lain semua hal yang dilakukannya adalah untuk keebaikanku.
Di batasi supaya aku tidak dibutai oleh emosiku yang suka meledak ledak, karena
aku adalah orang yang emosional. Beberapa kali aku di panggil ke ruang guru
akibat perbuatan yang kulakukan, bertengkar misalnya. Alasanku melakukan hal
tersebut awalnya adalah demi hal yang baik. Seorang teman dikelaasku disudutkan
dan diejek oleh beberapa orang. Menurutku itu adalah tindakan yang super
pengecut dan aku sangat membenci hal hal itu. Awalnya aku hanya menghentikan
perbuatan mereka dengan bicara pada mereka, namun mereka tidak mengindahi
perkataanku. Akibat emosi saat melihat perbuatan mereka, aku langsung menendang
kaki orang-orang tersebut. Tak hanya itu, aku juga meninju tangan mereka
sehingga mereka kesakitan dan mengadukannya pada seorang guru. Kami semua
disuruh keluar dan dilarang untuk memasuki kelas hingga kami saling maaf
memaafkan. Aku yang sangat jengkel pada saat itu bersikap “bodo amat” karena
toh, salah mereka. Aku berpikir bahwa aku hanya melakukan tidakan yang benar,
meski dengan cara yang kurang baik. Karena tidak satupun dari kami yang meminta
maaf, guru berkata bahwa akan memanggil orangtua kami. Mendengar ucapan guru
tersebut, aku yang takut akan dimarahi dan akan membuat orangtuaku sedih
langsung meminta maaf pada mereka supaya guru tidak memanggil orangtuaku.
Akibat guru yang sering mengancam akan memanggil orangtuaku, aku pun menjadi
orang yang pemendam dan terkadang pendiam di sekolah. Tentu saja alasannya
adalah emosionalku yang harus kupendam sehingga aku sering memendam. Seiring
berjalannya waktu, kini aku sudah bisa lebih mengontrol emosionalku. Aku fokus
untuk belajar saat sekolah, ada tidak memerdulikan hal hal buruk yang terjadi
di sekolah. Toh, ada guru yang akan mengancam akan memanggil orangtuamu, meski
kau melakukan tindakan tersebut untuk temanmu.
Kini, aku
sibuk untuk ujian akhir yang akan kujalani. Waktu belajar tambahan sore
membuatku semakin kurang berinteraksi dengannya. Aku hanya sibuk dari pagi
hingga pagi di sekolah hingga sore, dan pada malam harinya aku sibuk
mengerjakan tugas sekolah dan tidur setelahnya akibat tubuh yang lelah. Hingga
pada suatu siang, aku mendapati telepon bahwa Ia sedang berada di rumah sakit.
Ia memang sudah lama menderita diabetes, namun saat ini Ia dirawat akibat sakit
dari komplikasi diabetes yang ia derita. Seketika itu aku langsung menangis dan
bersembunyi sementara diluar kelas hingga air mataku berhenti dan aku
menyekanya supaya tidak diketahui orang lain. Aku kembali masuk ke kelas dengan
wajah yang pucat ditakuti rasa cemas memikirkannya.
Sepulang
dari sekolah aku langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaannya. Aku
bersyukur Ia lebih baik setelah dirawat beberapa hari dirumah sakit. Setelah
itu kami kembali menjalani hari seperti biasanya. Ia sekarang di rawat jalan
akibat penyakitnya yang sudah menjalar merusak ginjalnya. Aku menjalani
kehidupan dengan makin depresi. Beban pikiran karena Ia sedang sakit, beban
pikiran akibat suasana sekolah yang sangat aku tidak suka, beban pikiran teman
teman yang hanya makin membebaniku, dan semakin menjauh karena aku tidak terlalu
memikirkan apa yang terjadi di sekolah, karena tidak ingin memberatkan
orangtuaku jika aku sampai membuat masalah lagi, juga beban suasana keluarga
besar yang makin renggang. Tak ada tempat mengadu bagiku, hingga aku selalu
memendam semua yang kujalani.
Semakin
hari kondisi mental maupun fisikku makin memburuk. Aku adalah orang yang mudah
sakit sedari kecil. Aku sangat mudah terkena penyakit, terutama akibat alergi
yang kupunya. Aku mengidap alergi debu, alergi dingin, sangat mudah terkena
sakit kepala, dan tidak tahan dengann panas. Saat berada di sekolah dasar, aku
akan berada di ruang kesehatan karena akan pingsan jika terkena panas matahari
dalam waktu yang lama, namun saat smp aku sudah bisa kembali mengikuti upacara
dan kegiatan outdoor lainnya, meski tetap saja tak bisa dielakkan jika terlalu
lama terkena panas aku akan pusing dan bisa hilang keseimbangan.
Waktu
terus berjalan hingga tak terasa kini aku telah menjadi seorang mahasiswi. Aku
semakin sibuk dan semakin sulit untuk beremu dengannya. Ia tetap bekerja meski
sedang sakit, memenuhi semua kebutuhanku, membiayai kuliahku, dan tak perna
berhenti banting tulang demi untukku. Meski aku tak sadar, jutaan hal yang
telah Ia lakukan untukku. Selalu menanyakan kabarku hari-hariku, menjagaku dari
kejauhan, selalu menasehatiku, hingga tak sadar aku lelah dengan tindakan
terlalu protektif yang ia lakukan. Sangat jarang aku bertemu dengannya.
Sekalinya bertemu, aku suda terlalu kelelahan dengan urusan kuliah hingga aku
sering marah dan capek untuk melakukan hal yang Ia mintai tolong padaku.
Mengetahui
yang kualami, Ia makin jarang untuk memintaku melakukan sesuatu. Ia hanya
sesekali meminta tolong untuk memijitnya karena sakit yang ia rasakan. Hari pun
berjalan hingga tibalah liburan akhir semester. Aku pulang dan bertemu
dengannya, namun yang kulakukan padaya tetaplah sama. Seringkali aku ingin
meringankan bebannya, namun sering juga itu hanya menjadi wacana akibat diriku
yang mudah terkena sakit, sehingga sering terbaring di kasur untuk beristirahat.
Hingga pada pagi hari, aku mendapat telepon bahwa ia tak bisa bangun namun
masih bernapas. Aku langsung mendatanginya dan memnggil manggil namanya. Semua
orang cemas dan menitikkan air mata. Aku terus memanggilnya sambil menggenggam
tangannya. Tak lama kemudian, suara napasnya makin tipis, lalu ia menggenggam
balik tanganku dan aku kaget berharap ia bangun, namun yang aku dapati adalah
Ia pergi meninggalkan kami semua selamanya. Ia pergi dengan tenang hingga tak
seorangpun menyadari kepergiannya selain diriku. Aku yang tak sanggup menerima
kejadian saat itu terdiam dan tak memberitahu siapapun tentang kepergiannya.
Hanya dalam beberapa detik, akhirnya yang lain mengetahui bahwa Ia telah pergi
dan isak tangis semuanya pun pecah melihat apa yang terjadi. Aku terus menangis
tanpa bersuara karena takut membebani kepergiannya. Salah seorang keluarga
mencoba mengecek dan merasakan bahwa ada nadi yang super lemah dan menyuruh
untuk membawanya ke rumah sakit agar memastikan keadaannya.
Setibanya
di rumah sakit, para petugas medis langsung memasang alat deteksi jantung dan
mendapati bahwa Ia sudah meninggalkan kami semua. Tangisku makin pecah sembari
tetap menahan suara, dan juga menahan tangis agar orang lain tak melihat
kelemahanku. Aku depresi, frustasi, sakit, sangat merasa kehikangan, hingga
hanya bisa diam untuk beberapa waktu. Aku sangat sangat menyesal atas apa yang
kulakukan selama ini padanya. Yang terlintas hanyalah tindakan jahat yang
kulakukan, dan kenangan baik yang Ia lakukan untukku.
Kini aku
menjalani hari dengan tanpanya. Aku makin stress dan tak pernah melupakannya.
Tiap malam aku menangis mengingat semua tentangnya. Semua perbuatannya kini
hanya bisa kulakukan dengan terus beribadah dan mendoakannya agar Ia
ditempatkan di tempat terbaik. Ia adalah ppelindungku selama ini. Kini aku
telah kehilangan seorang pelindungku dengan penuh penyesalan. Setelah cerita
panjang tadi, sudahkah kalian tau siapa pelindungku tersebut? Ya, dia adalah
ayahku, pendamping ibu sang malaikatku dan anak-anaknya. Sadarilah, jika ayah
kalian masih hidup, banyaklah berbuat baik padanya. Sadari bahwa selama ini ia
adalah pelindung dari keluargamu. Meski kadang ia marah, kesal, semua itu
tidaklain adalah demi dirimu, dan kadang hanya karena ia kelelahan, Ia juga
seorang manusia, dan manusia tak luput dari kesalahan karena tidak ada manusia
yang sempurna. Jangan pernah menutupi hatimu akan tindakannya. Dahulu aku juga
tidak mengindahkan kata-kata ini, aku menutup hati dan tak mengingat perbuatan
baiknya, hanya memikirkan diriku yang selalu diatur olehnya. Orang yang sudah
pergi untuk selamanya, tidak akan pernah kembali kecuali di akhirat nanti. Kau
akan menyesal karena tak lagi dapat bertemu dengannya di dunia ini, hingga
putus asa atas apa yang telah terjadi selama ini.
by : halcyondkz
